Pretty Persuasion (2005)

3 04 2008

pretty_persuasion1.jpg

directed by Marcos Siega

“Buried beneath the cute outfits and fast metabolisms of high school girls, lies a daunting, faceless evil. They learn to rob your dignity through sexual enticement and manipulation, long before they’re legally allowed to drive. In Pretty Persuasion, Kimberly Joyce (Evan Rachel Wood) may be the most conniving seductress in the 90210 zip code, and she knows how to get exactly what she wants. It’s easy to hate her, but equally easy to fall under her spell.”

Kimberly Joyce adalah seorang anak SMA berumur 15 tahun yang tinggal di Beverly Hills dengan ayahnya yang rasis dan kekasih ayahnya yang sebenarnya hanya mengincar harta kekayaannya saja.

Di sekolahnya, Kimberly berteman baik dengan Brittany dan murid keturunan Arab, Randa yang diejek oleh teman - temannya karena memakai jilbab. Kimberly, sebaliknya, ingin berteman dengan Randa dengan alasan Kimberly akan terlihat lebih menarik jika ia berjalan dengan seseorang yang levelnya lebih rendah, sedangkan Randa akan terlihat lebih menarik jika ia berjalan dengan seseorang yang levelnya lebih tinggi.

Mereka bertiga memiliki satu kesamaan, mereka benci dengan guru Inggris mereka, Mr. Anderson, dan memutuskan untuk balas dendam dengan mengikuti rencana yang sudah dibuat oleh Kimberly.

Kimberly Joyce mungkin salah satu dari sekian banyak murid SMA lain yang dapat dijadikan contoh bagaimana kebudayaan sekarang yang sudah begitu kacaunya dapat membentuk sebuah jati diri yang benar - benar menyeramkan. Semua hal yang dilakukan Kimberly memiliki satu tujuan, untuk menjadi populer. Hal ini dapat dilihat dari alasan Kimberly berteman dengan Randa, dan bagaimana Kimberly dengan gampangnya melakukan hubungan seksual dengan siapa saja hanya untuk memanfaatkan orang tersebut.Hal yang paling mengganggu bagi saya adalah Kimberly selalu menggunakan dialog yg sm setiap kl dia berhubungan seks dan ketika dia meniru dialog di film porno untuk memikat seorang reporter wanita, dua hal yg menunjukkan bahwa ia adalah korban pop culture yg sdh memasuki stadium yg parah.

Marcos Siega, yang biasa menjadi sutradara video musik ini berhasil membawa Pretty Persuasion menjadi hiburan yang ringan tanpa harus membuat pesan yang ingin disampaikan hilang, dengan gayanya yang colorful, unik, dan dark. Score musiknya yang eksentrik seperti menggambarkan sosok Kimberly Joyce itu sendiri. Dari segi akting, film ini murni dikuasai penuh oleh aktris muda, Evan Rachel Wood, aktingnya begitu memikat sampai2 secara tidak sadar, ia bukan saja berhasil menggoda karakter film ini, tp juga kita.

pretty_persuasion_41.jpg




About Schmidt (2002)

30 03 2008

about_schmidt.jpg

directed by Alexander Payne

Jack Nicholson adalah Warren Schmidt, seorang vice president di sebuah perusahaan, Woodman, yang pensiun dan digantikan oleh seorang pemuda yang umurnya jauh dibawahnya.Menghadapi masa2 pensiunnya, Schmidt mulai merasa kehilangan dan kesepian.Ketika melihat iklan tentang orang tua angkat bagi anak2 di Afrika, Warren memutuskan untuk ikut dan menjadi orang tua asuh bagi Ndugu, seorang bocah di Afrika. Untuk menghabiskan waktunya, Schmidt sering menuliskan surat untuk Ndugu. Suatu hari, Schmidt tiba2 mendapatkan musibah yang membuatnya semakin menderita dan kesepian. Apalagi anaknya, Jeannie akan melakukan pernikahan dengan seorang lelaki yang dibencinya.

Merupakan suatu pengalaman yang menarik sekali melihat film yang tokoh utamanya adalah orang yg kehidupannya tidak jauh dari kita. Schmidt sendiri mungkin merupakan perwakilan dr ratusan bahkan ribuan orang2 tua yang merasa kesepian atau kehilangan di hari tuanya.Film ini sendiri menceritakan tentang bagaimana sikap Schmidt menghadapi semua itu. Pendekatan akting Jack Nicholson juga membuat karakter Schmidt ini berbeda, Schmidt adalah orang yg sukses, namun Jack Nicholson membawa karakter Schmidt sebagai seorang tua yang elegan , namun sebagai seorang tua yang kesepian, hampa, dan menderita secara mental. Akting Jack Nicholson jugalah yang berhasil membuat film ini menjadi “kuat” dan terasa mengganggu sekali. Ending dr film ini mungkin bisa dibilang salah satu ending terbaik selama ini, sedih, mengharukan namun tidak klise dan mengada - ada.

Gaya Penyutradaraan Alexander Payne yang biasanya agak quirky berhasil membuat film ini tidak menjadi sebuah melodrama biasa. Hal itu bisa kita lihat pada adegan pembukanya dimana Schmidt sedang duduk di ruang kerjanya menunggu jam selesai dan lalu pulang, aneh namun bisa langsung memberikan kesan terhadap karakter ini. Selama film berlangsung pun Payne memasukkan beberapa adegan simbolisasi tentang kondisi kehidupan Schmidt, sebagai contoh salah satu adegan saat Schmidt melihat mobil yang mengangkut sapi2. Karakter2 yang colorful yang dihadapi Schmidt juga memberikan andil dalam menonjolkan peranan Schmidt dalam film ini.

About Schmidt adalah sebuah studi karakter tentang kehidupan yang tak jauh dari kita. Sebuah cerita yang sangat menyentuh dan tragis dan dapat menjadi
satu pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi.

06.jpg




Bad Lieutenant (1992)

28 03 2008

bad_lieutenant.jpg

directed by Abel Ferrara

Setelah menonton Dangerous Games (dengan Harvey Keitel sebagai salah satu aktor utamanya), saya menjadi tertarik dengan film - filmnya yang lain. Di mata saya, Abel Ferrara termasuk salah satu sutradara menarik karena range filmnya yang cukup luas, dari film exploitation gore sampai film drama seperti King of New York.

Bad Lieutenant sendiri bercerita tentang seorang polisi dengan attitude yang sangat bad. Namun arti bad disini bukan seperti di film Hollywood dimana bad = cool. Harvey Keitel menjadi seorang polisi yang sudah muak dan jenuh dengan hidupnya sendiri. Ia seperti kehilangan arah dan semakin lama semakin hancur dalam aktivitas narkoba dan perjudiannya. Pada suatu hari, ia menerima kasus dimana seorang suster gereja diperkosa oleh 2 orang secara brutal di dalam gereja ini. Pertemuannya dengan suster inilah yang akan mengubah hidupnya.

Tak disangka film ini menjadi salah satu film religius yang paling kuat dari yang pernah saya tonton. Dengan ajaran agama Katolik sebagai landasan dalam film ini, Abel Ferrara ingin mengangkat tentang proses penebusan seorang pendosa seperti polisi itu dan bagaimana suatu kepercayaan bisa mengubah pandangan dan jalan hidupnya. Pada Adegan - adegan awal, kita diberi suguhan tentang bagaimana hancurnya hidup si polisi. Ada beberapa adegan yang paling kuat dalam menggambarkan betapa menyedihkannya hidup si polisi :

1. Adegan si polisi yang telanjang bulat dan mengepakkan tangannya seakan - akan ingin terbang.

2. Adegan masturbasi si polisi dengan dua perempuan di dalam mobil.

Harvey Keitel bermain sangat luar biasa di film ini. Ia menampilkan suatu lapisan emosi yang sangat dalam dan kuat yang membuat kita menjadi bersimpati dengan nasibnya. Bisa dibilang, Bad Lieutenant tidak akan bisa sebaik ini tanpanya.

Beberapa komentar mengatakan kalau Bad Lieutenant memiliki kekurangan dalam segi penceritaan. Mereka pada umumnya kecewa dengan alur cerita yang sederhana. Namun film ini memang seluruhnya merupakan suatu studi karakter tentang penebusan dan penyesalan manusia atas dosanya. Dengan rating NC-17, tak banyak yang menyangka kalau film ini justru dapat menghadirkan suatu kisah religius yang sangat kuat dan mengharukan.

04721.jpg




Foul King (Banchikwang, 2000)

4 03 2008

66_p1.jpg

directed by Kim Ji-Woon

Sebelum terkenal dengan film horrornya, A Tale of Two Sister, Kim Ji-Woon terlebih dahulu membuat sebuah film komedi berjudul Foul King (Banchikwang,2000). Film ini mengisahkan tentang Dae- Ho seorang pegawai yang selalu terlambat masuk dan menjadi bulan-bulanan oleh managernya. Setiap hari, ia selalu “diberi” headlock oleh managernya itu. Karena tidak tahan lagi, ia lalu mulai mencari jalan untuk bisa mengatasi headlock managernya itu. Ia lalu mencoba untuk berguru pada seorang pegulat veteran, namun tekadnya menjadi bulat. Ia tidak hanya ingin keluar dari headlock itu tapi juga ingin menjadi pegulat profesional.

Berbeda dengan The Quiet Family, di film ini saya merasa Ji Woon Kim agak tanggung dalam mengarahkan film ini. Di satu sisi, film ini memiliki slapstick humor yang kental, namun di sisi lain, ia juga ingin memaparkan suatu drama psikologis tentang kehidupan Dae-Ho yang menyedihkan dan hanya berani berbicara ketika ia memakai topeng karakter pegulatnya itu. Sebenarnya idenya cukup menarik, namun karena sepanjang film ini kita disuguhi dengan adegan slapstik konyol dan ditambah dengan plot klasik ala film underdog milik Hollywood, maka saya sendiri pun tidak siap dengan endingnya yang lebih introspektif. Sebenarnya hal ini sangat disayangkan, melihat potensi film ini yang begitu besar. Kalau saja, Ji Woon Kim lebih tegas mengarahkan film ini menuju ke mana, maka Foul King akan menjadi satu film utuh yang menarik.

Foul King sendiri bukan berarti menjadi film yang gagal, sebagai film komedi, film ini cukup menghibur dengan adegan - adegan slapsticknya yang konyol (saya sendiri masih terbahak - bahak melihat adegan tusuk garpunya). Akting Song Kang-Ho sendiri cukup diacungi dua jempol. Ia sanggup melakukan stunt sendiri dalam seluruh adegan gulatnya yang impresif. Dibalik kekurangannya tersebut, Foul King sebenar harus dipuji karena berani keluar dari formula komedi biasa dan menggunakan gulat sebagai simbol dari perjuangan Dae-Ho melawan hidupnya. Gulat menjadi tempat Dae-Ho untuk kabur dari kehidupan sehari - harinya dan membuang identitas lamanya sebagai seorang pecundang. Endingnya sendiri cukup masuk akal dan menarik. Namun sayangnya, setelah adegan komedi, action sampai romantis di sepanjang film, saya tidak siap dan agak kecewa dengan endingnya yang mengubah mood 180 derajat itu.
foulking.jpg




Serial Mom (1994)

3 03 2008

4716-large1.jpg

directed by John Waters

Sebagai karya dari salah satu sutradara favorit saya,John Waters, sangat sulit bagi saya untuk dapat menilai film ini secara obyektif. Karena sejauh ini, tidak ada filmnya yang tidak pantas ditonton bagi saya. Semua film memiliki ciri khas dankeunikan tersendiri yang membuat saya hanya perlu duduk santai sambil minum kopi dan menikmati akting serta plot absurd miliknya tanpa harus memutar otak. Serial Mom sendiri merupakan salah satu film di era “aman”nya John Waters. Dibandingkan dengan film - filmnya terdahulu, Serial Mom memang jauh lebih sopan dan komersil. Namun bukan berarti, film ini biasa saja. Seperti biasa, John Waters tetap menghadirkan adegan - adegan satir dan komikal yang absurd dan nyeleneh.

Sama seperti film - filmnya yang lain, Serial Mom mengambil latar belakang di Baltimore, kota tempat tinggal John Waters. Adegan dibuka dengan text yang menyatakan bahwa cerita dalam film ini berdasarkan kisah nyata. Tentu saja, ini hanya akal-akalan saja. Setelah itu, kita dihadirkan pada acara makan pagi keluarga Sutphin. Keluarga Sutphin sendiri terdiri dari Eugene Sutphin(seorang dokter gigi),Beverly Sutphin (tokoh utama dalam film ini, seorang ibu yang mudah terganggu dengan hal - hal yang tidak sesuai dengan keinginannya), Chip Sutphin ( anak muda yang gemar menonton film horror) dan Misty Sutphin (perempuan yang mudah jatuh cinta dengan semua pria yang ditemuinya). Adegan pembuka ini juga menjadi awal perkenalan kita dengan sang karakter utama, Beverly. Beverly digambarkan sebagai ibu - ibu gosip biasa dengan sikap kolot yang “agak diluar batas”. Ia mudah sekali terganggu dengan hal - hal yang tidak sesuai dengan aturannya. Sikapnya ini mulai diluar batas ketika ia dengan mudah menghabiskan nyawa mereka yang dianggapnya mengganggu.

Sebagai salah satu film mainstreamnya, John Waters sama sekali tidak kekurangan amunisi untuk bisa membuat Serial Mom menjadi film dengan ciri khasnya.Serial Mom tetap menghadirkan adegan - adegan humor yang campy serta kritik sosial yang cukup dalam dan menarik. Sama seperti film milik Francois Ozon, Sitcom, disini John Waters mengangkat tema tentang sebuah kehidupan yang kelam dibalik “kulit”nya yang terlihat baik. Beverly Sutphin mungkin terlihat sebagai ibu yang kolot dan stereotype namun
dibalik itu ia juga menyimpan rahasia yang kelam, ia suka membaca buku - buku tentang pembunuhan dan diam - diam dia menyimpan kekaguman dengan para serial killer.
BUkan hanya Beverly yang menyimpan rahasia seperti itu. Di balik senyum para ibu - ibu rumah tangga itu, mereka masing - masing memiliki rahasia kelam tersendiri. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika seorang ibu diam - diam memiliki kegemaran menonton film Annie sambil dijilat kakinya oleh anjingnya.
Tema yang ditawarkan John Waters sendiri lebih dari itu,dengan beragam adegan seperti adegan makan yang “berisik”, adegan seorang wanita kulit hitam yang menangis ketika diberitahu bahwa anaknya bukan tipe anak yang pantas kuliah dan sebagainya, John Waters ingin menampilkan sebuah kehidupan masyarakat yang biasa - biasa saja dari luarnya, namun memiliki kompleksitas yang sangat besar. Semua tema ini disampaikan dengan humor - humor tipikal ala John Waters yang absurd dan kasar.

Film dengan tema serupa mungkin sudah banyak dibuat, namun sentuhan John Waters yang unik membuat film ini menghadirkan sesuatu yang segar dan menarik. Dibandingkan dengan film - filmnya di era “aman” ini, saya rasa Serial Mom merupakan salah satu film terbaiknya. Sama seperti film- filmnya yang lain, setiap adegan disini memiliki momen - momen yang memorial dan unik yang membuat film ini menjadi memorable. Salut untuk John Waters!

01.jpg




BAADASSSSSS! (2003)

16 02 2008

badassfin.jpg

Directed by Mario Van Peebles

93d54b8f6c3aba2998b1beca199b08b5.jpg

Melvin Van Peebles bisa jadi merupakan living legend dalam komunitas black cinema. Filmnya yang berjudul Sweet Sweetback’s Baadassssss Song! merupakan salah satu film legendaris yang mematahkan karakter stereotype tokoh kulit hitam pada perfilman
Hollywood pada waktu itu. Dalam filmnya itu, Melvin juga berperan sebagai koboi yang berjuang melawan arogansi kulit putih. Film ini disebut - sebut sebagai landasan film blaxploitation dan juga batu tolak untuk para sineas dan aktor kulit hitam untuk masuk ke dalam dunia mainstream

Berbekal fakta itu, Mario Van Peebles, membuat sebuah dokudrama tentang bagaimana beratnya perjuangan sang ayah dalam proses produksi film tersebut. Mario sendiri berperan sebagai Melvin, seorangs sutradara yang baru saja meraih sukses dengan film
komedi,Watermelon Man, dan ditawarkan untuk terus membuat film - film sejenis. Namun keresahan Melvin akan pandangan stereotype Hollywood terhadap tokoh kulit hitam membuat Melvin memutuskan keluar dan membuat film sendiri secara independen. Dibantu dengan teman hippienya, Bill dan crew amatir dari perusahaan video porno, Melvin bertekad untuk membuat sejarah dan mengobarkan bendera perang terhadap Hollywood.

Baadassssss! merupakan proyek homage yang didedikasikan penuh kepada ayahnya. Dalam film ini, bisa kita lihat bagaimana proses perenungan sang ayah sebelum membuat karya legendarisnya itu sampai pada proses produksi dimana Melvin harus mengorbankan seluruh harta bendanya agar film itu bisa dicapai. Semuanya diperankan dengan emosional oleh Mario sendiri. Walupun begitu, salut untuk Mario yang bisa membuat film ini terasa obyektif dan tidak terlalu mengagung-agungkan sosok Melvin. Melvin van Peebles, dalam film ini, digambarkan sebagai seseorang dengan ego besar, yang mau mengorbankan apa saja agar filmnya bisa tercapai. Ia adalah sosok diktator, yang tidak segan - segan memecat dan bahkan menghantam siapa saja yang menghambat jalannya produksi. Ia bahkan “tega” untuk memasukkan anaknya sendiri, (Mario) ke dalam satu adegan dimana si anak harus beradegan sex. Hal ini menjadi menarik, karena film ini juga memasukkan bagaimana pergolakan emosi Mario pada waktu itu.

Baadassssss! adalah film yang menarik. Bukan saja karena faktor - faktor eksternal semata, namun juga bagaimana Mario Van Peebles dapat menggambarkan secara detil karakter Melvin ke dalam film ini. Melvin digambarkan sebagai sosok yang menemukan impian hidupnya dan tidak ragu - ragu untuk mewujudkannya. Ia digambarkan sebagai sosok egois yang mengharapkan semua orang memiliki passion yang sama seperti dia, dan yang paling penting lagi, ia merasa sebagai pahlawan yang sedang bekerja untuk bangsanya sendiri, yaitu kaum kulit hitam. Dengan proses produksi yang memiliki begitu banyak masalah dari berbagai segi, Mario menggambarkan bagaimana frustasinya sang ayah dan keraguannya untuk meneruskan impiannya itu. Dengan akurat dan emosional, Mario memaparkan bagaimana kondisi psikologis sang ayah pada waktu itu.

Sweet Sweetback’s Baadasssss Song mungkin bukan film yang baik dari segi estetika, namun film ini tetap harus mendapat tempat khusus di dalam sejarah perfilman dunia. Dalam Baadassssss!, Mario Van Peebles terlihat ingin memberikan secara detil proses pembuatan sejarah itu,dan ingin membuka mata penontonnya untuk semakin menghargai film tersebut. karena itu film ini juga wajib ditonton oleh mereka yang berniat untuk terjun dalam dunia perfilman independen.Dan satu lagi, harus diakui film ini menjadi lebih bermakna ketika ditutup dengan senyum dan kedipan mata sang ayah yang hangat dan terlihat puas.

e3b1198d86e1aa71991f4b789f97f6f0.jpg




Levres de Sang (1975)

9 02 2008

directed by Jean Rollin

Jean Rollin bisa jadi salah satu sutradara film B-Horror yang paling menarik. Hampir semua filmnya memiliki nuansa vampirism dan surreal yang kental. Di tengah film - filmnya yang “naik-turun”, Lips of Blood sering disebut - sebut sebagai salah satu film terbaik milik Rollin. Berbekal predikat itu, maka saya memilih film ini sebagai film Rollin pertama saya.Sebenarnya, ketertarikan saya terhadap Jean Rollin, dimulai saat saya terkagum - kagum dengan film Venus in Furs karya Jess Franco. Di mata saya, visual dan cara penyampaian Jess Franco sangat menarik dan kreatif sekali. Karena itu saya berusaha mencari film - film serupa, sampai saya membaca kalau Jean Rollin termasuk salah satu sutradara papan atas di genre ini.

Dalam suatu pesta, Frederic (Jean-Loup Phillipe) melihat sebuah poster bergambarkan sebuah bangunan tua sebagai latarnya. Seketika, ia ingat dengan pengalaman masa kecilnya dimana dia bertemu dengan seorang wanita muda misterius di bangunan tua yang mirip dengan itu. Ia lalu berusaha mencari tahu tentang bangunan ini. Namun tak disangka, ada beberapa orang yang tidak ingin Frederic mengetahui lebih jelas siapa wanita muda itu. Selama investigasinya ini, ia sering melihat penampakan dari wanita muda itu. Penampakan ini membawanya ke sebuah kuburan tua . Tanpa sadar, ia telah membangunkan sekelompok vampire muda telanjang yang selalu membantu dia di saat dia dihadang oleh orang - orang misterius itu.

Dengan alur cerita yang sangat sederhana, sulit untuk bisa melihat ini sebagai masterpiece dari film - film sejenis, melihat tingginya kebebasan kreativitas si sutradara dalam film - film seperti ini. Bumbu misteri dan investigasi di sini terasa kurang menggigit. Sepertinya Jean Rollin tidak tertarik untuk membuat suatu cerita yang complicated. Hal ini yang membuat film ini tidak begitu menarik untuk mereka yang memposisikan film ini sebagai film horror.

screenshot LoB02

Tapi memang bisa dibilang, ini bukan film horror, melainkan sebuah kisah cinta klasik dengan nuansa gothic yang kental. Dengan bekal sebuah cerita sederhana, Jean Rollin menambahkan bumbu - bumbu Gothic dan gambar - gambar surrealis yang bisa menghipnotis kita. Dengan musik jazzy yang corny dan atmosfer yang kelam, Paris diubah bagaikan sebuah dunia kelam dimana tokohnya berusaha untuk keluar dari situ. Gambar - gambar yang simbolis dan puitis membuat film ini menjadi semakin menarik dan cantik.

Akting para pemainnya sendiri tidak begitu luar biasa, Jean-Loup Phillipe sebagai tokoh utama mampu menghadirkan sosok pria metropolis yang merasa hilang dan kosong. Sosok wanita muda misterius juga diperankan dengan pas oleh Annie Brilland. Mimik mukanya yang dingin sudah cukup untuk menghadirkan misteri dan nuansa yang gelap untuk film ini. Sayangnya, ia terlihat kaku pada saat berdialog. Vampire - vampire di sini menjadi titik lemah film ini. Mereka seperti tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ada satu adegan dimana saat Rollin memberikan porsi close up bagi mereka, dan mereka seperti bingung dan mati gaya.

Bagi saya yang belum pernah menonton film - film Rollin, film ini memiliki unsur yang sangat menarik terutama dari gaya puitisnya yang menghipnotis. Endingnya yang indah menjadi nilai tambah tersendiri untuk film yang sederhana seperti ini. Bisa jadi inilah kelebihan Rollin, dengan bekal cerita seperti itu, ia bisa memberikan suatu lapisan - lapisan yang menjadikan film ini menarik dan memorable. Di tangannya, Lips of Blood menjadi suatu kisah cinta surrealis yang kelam dan indah.

screenshot LoB 03