Foul King (Banchikwang, 2000)
4 03 2008directed by Kim Ji-Woon
Sebelum terkenal dengan film horrornya, A Tale of Two Sister, Kim Ji-Woon terlebih dahulu membuat sebuah film komedi berjudul Foul King (Banchikwang,2000). Film ini mengisahkan tentang Dae- Ho seorang pegawai yang selalu terlambat masuk dan menjadi bulan-bulanan oleh managernya. Setiap hari, ia selalu “diberi” headlock oleh managernya itu. Karena tidak tahan lagi, ia lalu mulai mencari jalan untuk bisa mengatasi headlock managernya itu. Ia lalu mencoba untuk berguru pada seorang pegulat veteran, namun tekadnya menjadi bulat. Ia tidak hanya ingin keluar dari headlock itu tapi juga ingin menjadi pegulat profesional.
Berbeda dengan The Quiet Family, di film ini saya merasa Ji Woon Kim agak tanggung dalam mengarahkan film ini. Di satu sisi, film ini memiliki slapstick humor yang kental, namun di sisi lain, ia juga ingin memaparkan suatu drama psikologis tentang kehidupan Dae-Ho yang menyedihkan dan hanya berani berbicara ketika ia memakai topeng karakter pegulatnya itu. Sebenarnya idenya cukup menarik, namun karena sepanjang film ini kita disuguhi dengan adegan slapstik konyol dan ditambah dengan plot klasik ala film underdog milik Hollywood, maka saya sendiri pun tidak siap dengan endingnya yang lebih introspektif. Sebenarnya hal ini sangat disayangkan, melihat potensi film ini yang begitu besar. Kalau saja, Ji Woon Kim lebih tegas mengarahkan film ini menuju ke mana, maka Foul King akan menjadi satu film utuh yang menarik.
Foul King sendiri bukan berarti menjadi film yang gagal, sebagai film komedi, film ini cukup menghibur dengan adegan - adegan slapsticknya yang konyol (saya sendiri masih terbahak - bahak melihat adegan tusuk garpunya). Akting Song Kang-Ho sendiri cukup diacungi dua jempol. Ia sanggup melakukan stunt sendiri dalam seluruh adegan gulatnya yang impresif. Dibalik kekurangannya tersebut, Foul King sebenar harus dipuji karena berani keluar dari formula komedi biasa dan menggunakan gulat sebagai simbol dari perjuangan Dae-Ho melawan hidupnya. Gulat menjadi tempat Dae-Ho untuk kabur dari kehidupan sehari - harinya dan membuang identitas lamanya sebagai seorang pecundang. Endingnya sendiri cukup masuk akal dan menarik. Namun sayangnya, setelah adegan komedi, action sampai romantis di sepanjang film, saya tidak siap dan agak kecewa dengan endingnya yang mengubah mood 180 derajat itu.

