Une femme douce (Czech ver)

31 03 2008

unefemmedoucecz.jpg

Poster dari film karya sutradara Robert Bresson ini merupakan versi intrepretasi dari seniman Czechoslovakia. Poster ini jauh lebih menarik ketimbang versi aslinya karena figur misterius itu menimbulkan intrepretasi yang lebih dalam dan lebih masuk dalam penggambaran tema film ini





Teorema (Japanese Ver. Poster)

30 03 2008

teorama-japanpreview.jpg

Sama seperti cover dvdnya, poster ini masih menonjolkan figur sang ibu sebagai fokus utama. Bedanya, ciri khas Jepang-nya sangat terasa pada pemilihan warnanya.





About Schmidt (2002)

30 03 2008

about_schmidt.jpg

directed by Alexander Payne

Jack Nicholson adalah Warren Schmidt, seorang vice president di sebuah perusahaan, Woodman, yang pensiun dan digantikan oleh seorang pemuda yang umurnya jauh dibawahnya.Menghadapi masa2 pensiunnya, Schmidt mulai merasa kehilangan dan kesepian.Ketika melihat iklan tentang orang tua angkat bagi anak2 di Afrika, Warren memutuskan untuk ikut dan menjadi orang tua asuh bagi Ndugu, seorang bocah di Afrika. Untuk menghabiskan waktunya, Schmidt sering menuliskan surat untuk Ndugu. Suatu hari, Schmidt tiba2 mendapatkan musibah yang membuatnya semakin menderita dan kesepian. Apalagi anaknya, Jeannie akan melakukan pernikahan dengan seorang lelaki yang dibencinya.

Merupakan suatu pengalaman yang menarik sekali melihat film yang tokoh utamanya adalah orang yg kehidupannya tidak jauh dari kita. Schmidt sendiri mungkin merupakan perwakilan dr ratusan bahkan ribuan orang2 tua yang merasa kesepian atau kehilangan di hari tuanya.Film ini sendiri menceritakan tentang bagaimana sikap Schmidt menghadapi semua itu. Pendekatan akting Jack Nicholson juga membuat karakter Schmidt ini berbeda, Schmidt adalah orang yg sukses, namun Jack Nicholson membawa karakter Schmidt sebagai seorang tua yang elegan , namun sebagai seorang tua yang kesepian, hampa, dan menderita secara mental. Akting Jack Nicholson jugalah yang berhasil membuat film ini menjadi “kuat” dan terasa mengganggu sekali. Ending dr film ini mungkin bisa dibilang salah satu ending terbaik selama ini, sedih, mengharukan namun tidak klise dan mengada – ada.

Gaya Penyutradaraan Alexander Payne yang biasanya agak quirky berhasil membuat film ini tidak menjadi sebuah melodrama biasa. Hal itu bisa kita lihat pada adegan pembukanya dimana Schmidt sedang duduk di ruang kerjanya menunggu jam selesai dan lalu pulang, aneh namun bisa langsung memberikan kesan terhadap karakter ini. Selama film berlangsung pun Payne memasukkan beberapa adegan simbolisasi tentang kondisi kehidupan Schmidt, sebagai contoh salah satu adegan saat Schmidt melihat mobil yang mengangkut sapi2. Karakter2 yang colorful yang dihadapi Schmidt juga memberikan andil dalam menonjolkan peranan Schmidt dalam film ini.

About Schmidt adalah sebuah studi karakter tentang kehidupan yang tak jauh dari kita. Sebuah cerita yang sangat menyentuh dan tragis dan dapat menjadi
satu pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi.

06.jpg





Bad Lieutenant (1992)

28 03 2008

bad_lieutenant.jpg

directed by Abel Ferrara

Setelah menonton Dangerous Games (dengan Harvey Keitel sebagai salah satu aktor utamanya), saya menjadi tertarik dengan film – filmnya yang lain. Di mata saya, Abel Ferrara termasuk salah satu sutradara menarik karena range filmnya yang cukup luas, dari film exploitation gore sampai film drama seperti King of New York.

Bad Lieutenant sendiri bercerita tentang seorang polisi dengan attitude yang sangat bad. Namun arti bad disini bukan seperti di film Hollywood dimana bad = cool. Harvey Keitel menjadi seorang polisi yang sudah muak dan jenuh dengan hidupnya sendiri. Ia seperti kehilangan arah dan semakin lama semakin hancur dalam aktivitas narkoba dan perjudiannya. Pada suatu hari, ia menerima kasus dimana seorang suster gereja diperkosa oleh 2 orang secara brutal di dalam gereja ini. Pertemuannya dengan suster inilah yang akan mengubah hidupnya.

Tak disangka film ini menjadi salah satu film religius yang paling kuat dari yang pernah saya tonton. Dengan ajaran agama Katolik sebagai landasan dalam film ini, Abel Ferrara ingin mengangkat tentang proses penebusan seorang pendosa seperti polisi itu dan bagaimana suatu kepercayaan bisa mengubah pandangan dan jalan hidupnya. Pada Adegan – adegan awal, kita diberi suguhan tentang bagaimana hancurnya hidup si polisi. Ada beberapa adegan yang paling kuat dalam menggambarkan betapa menyedihkannya hidup si polisi :

1. Adegan si polisi yang telanjang bulat dan mengepakkan tangannya seakan – akan ingin terbang.

2. Adegan masturbasi si polisi dengan dua perempuan di dalam mobil.

Harvey Keitel bermain sangat luar biasa di film ini. Ia menampilkan suatu lapisan emosi yang sangat dalam dan kuat yang membuat kita menjadi bersimpati dengan nasibnya. Bisa dibilang, Bad Lieutenant tidak akan bisa sebaik ini tanpanya.

Beberapa komentar mengatakan kalau Bad Lieutenant memiliki kekurangan dalam segi penceritaan. Mereka pada umumnya kecewa dengan alur cerita yang sederhana. Namun film ini memang seluruhnya merupakan suatu studi karakter tentang penebusan dan penyesalan manusia atas dosanya. Dengan rating NC-17, tak banyak yang menyangka kalau film ini justru dapat menghadirkan suatu kisah religius yang sangat kuat dan mengharukan.

04721.jpg





Foul King (Banchikwang, 2000)

4 03 2008

66_p1.jpg

directed by Kim Ji-Woon

Sebelum terkenal dengan film horrornya, A Tale of Two Sister, Kim Ji-Woon terlebih dahulu membuat sebuah film komedi berjudul Foul King (Banchikwang,2000). Film ini mengisahkan tentang Dae- Ho seorang pegawai yang selalu terlambat masuk dan menjadi bulan-bulanan oleh managernya. Setiap hari, ia selalu “diberi” headlock oleh managernya itu. Karena tidak tahan lagi, ia lalu mulai mencari jalan untuk bisa mengatasi headlock managernya itu. Ia lalu mencoba untuk berguru pada seorang pegulat veteran, namun tekadnya menjadi bulat. Ia tidak hanya ingin keluar dari headlock itu tapi juga ingin menjadi pegulat profesional.

Berbeda dengan The Quiet Family, di film ini saya merasa Ji Woon Kim agak tanggung dalam mengarahkan film ini. Di satu sisi, film ini memiliki slapstick humor yang kental, namun di sisi lain, ia juga ingin memaparkan suatu drama psikologis tentang kehidupan Dae-Ho yang menyedihkan dan hanya berani berbicara ketika ia memakai topeng karakter pegulatnya itu. Sebenarnya idenya cukup menarik, namun karena sepanjang film ini kita disuguhi dengan adegan slapstik konyol dan ditambah dengan plot klasik ala film underdog milik Hollywood, maka saya sendiri pun tidak siap dengan endingnya yang lebih introspektif. Sebenarnya hal ini sangat disayangkan, melihat potensi film ini yang begitu besar. Kalau saja, Ji Woon Kim lebih tegas mengarahkan film ini menuju ke mana, maka Foul King akan menjadi satu film utuh yang menarik.

Foul King sendiri bukan berarti menjadi film yang gagal, sebagai film komedi, film ini cukup menghibur dengan adegan – adegan slapsticknya yang konyol (saya sendiri masih terbahak – bahak melihat adegan tusuk garpunya). Akting Song Kang-Ho sendiri cukup diacungi dua jempol. Ia sanggup melakukan stunt sendiri dalam seluruh adegan gulatnya yang impresif. Dibalik kekurangannya tersebut, Foul King sebenar harus dipuji karena berani keluar dari formula komedi biasa dan menggunakan gulat sebagai simbol dari perjuangan Dae-Ho melawan hidupnya. Gulat menjadi tempat Dae-Ho untuk kabur dari kehidupan sehari – harinya dan membuang identitas lamanya sebagai seorang pecundang. Endingnya sendiri cukup masuk akal dan menarik. Namun sayangnya, setelah adegan komedi, action sampai romantis di sepanjang film, saya tidak siap dan agak kecewa dengan endingnya yang mengubah mood 180 derajat itu.
foulking.jpg





Serial Mom (1994)

3 03 2008

4716-large1.jpg

directed by John Waters

Sebagai karya dari salah satu sutradara favorit saya,John Waters, sangat sulit bagi saya untuk dapat menilai film ini secara obyektif. Karena sejauh ini, tidak ada filmnya yang tidak pantas ditonton bagi saya. Semua film memiliki ciri khas dankeunikan tersendiri yang membuat saya hanya perlu duduk santai sambil minum kopi dan menikmati akting serta plot absurd miliknya tanpa harus memutar otak. Serial Mom sendiri merupakan salah satu film di era “aman”nya John Waters. Dibandingkan dengan film – filmnya terdahulu, Serial Mom memang jauh lebih sopan dan komersil. Namun bukan berarti, film ini biasa saja. Seperti biasa, John Waters tetap menghadirkan adegan – adegan satir dan komikal yang absurd dan nyeleneh.

Sama seperti film – filmnya yang lain, Serial Mom mengambil latar belakang di Baltimore, kota tempat tinggal John Waters. Adegan dibuka dengan text yang menyatakan bahwa cerita dalam film ini berdasarkan kisah nyata. Tentu saja, ini hanya akal-akalan saja. Setelah itu, kita dihadirkan pada acara makan pagi keluarga Sutphin. Keluarga Sutphin sendiri terdiri dari Eugene Sutphin(seorang dokter gigi),Beverly Sutphin (tokoh utama dalam film ini, seorang ibu yang mudah terganggu dengan hal – hal yang tidak sesuai dengan keinginannya), Chip Sutphin ( anak muda yang gemar menonton film horror) dan Misty Sutphin (perempuan yang mudah jatuh cinta dengan semua pria yang ditemuinya). Adegan pembuka ini juga menjadi awal perkenalan kita dengan sang karakter utama, Beverly. Beverly digambarkan sebagai ibu – ibu gosip biasa dengan sikap kolot yang “agak diluar batas”. Ia mudah sekali terganggu dengan hal – hal yang tidak sesuai dengan aturannya. Sikapnya ini mulai diluar batas ketika ia dengan mudah menghabiskan nyawa mereka yang dianggapnya mengganggu.

Sebagai salah satu film mainstreamnya, John Waters sama sekali tidak kekurangan amunisi untuk bisa membuat Serial Mom menjadi film dengan ciri khasnya.Serial Mom tetap menghadirkan adegan – adegan humor yang campy serta kritik sosial yang cukup dalam dan menarik. Sama seperti film milik Francois Ozon, Sitcom, disini John Waters mengangkat tema tentang sebuah kehidupan yang kelam dibalik “kulit”nya yang terlihat baik. Beverly Sutphin mungkin terlihat sebagai ibu yang kolot dan stereotype namun
dibalik itu ia juga menyimpan rahasia yang kelam, ia suka membaca buku – buku tentang pembunuhan dan diam – diam dia menyimpan kekaguman dengan para serial killer.
BUkan hanya Beverly yang menyimpan rahasia seperti itu. Di balik senyum para ibu – ibu rumah tangga itu, mereka masing – masing memiliki rahasia kelam tersendiri. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika seorang ibu diam – diam memiliki kegemaran menonton film Annie sambil dijilat kakinya oleh anjingnya.
Tema yang ditawarkan John Waters sendiri lebih dari itu,dengan beragam adegan seperti adegan makan yang “berisik”, adegan seorang wanita kulit hitam yang menangis ketika diberitahu bahwa anaknya bukan tipe anak yang pantas kuliah dan sebagainya, John Waters ingin menampilkan sebuah kehidupan masyarakat yang biasa – biasa saja dari luarnya, namun memiliki kompleksitas yang sangat besar. Semua tema ini disampaikan dengan humor – humor tipikal ala John Waters yang absurd dan kasar.

Film dengan tema serupa mungkin sudah banyak dibuat, namun sentuhan John Waters yang unik membuat film ini menghadirkan sesuatu yang segar dan menarik. Dibandingkan dengan film – filmnya di era “aman” ini, saya rasa Serial Mom merupakan salah satu film terbaiknya. Sama seperti film- filmnya yang lain, setiap adegan disini memiliki momen – momen yang memorial dan unik yang membuat film ini menjadi memorable. Salut untuk John Waters!

01.jpg