Levres de Sang (1975)
9 02 2008
directed by Jean Rollin
Jean Rollin bisa jadi salah satu sutradara film B-Horror yang paling menarik. Hampir semua filmnya memiliki nuansa vampirism dan surreal yang kental. Di tengah film - filmnya yang “naik-turun”, Lips of Blood sering disebut - sebut sebagai salah satu film terbaik milik Rollin. Berbekal predikat itu, maka saya memilih film ini sebagai film Rollin pertama saya.Sebenarnya, ketertarikan saya terhadap Jean Rollin, dimulai saat saya terkagum - kagum dengan film Venus in Furs karya Jess Franco. Di mata saya, visual dan cara penyampaian Jess Franco sangat menarik dan kreatif sekali. Karena itu saya berusaha mencari film - film serupa, sampai saya membaca kalau Jean Rollin termasuk salah satu sutradara papan atas di genre ini.

Dalam suatu pesta, Frederic (Jean-Loup Phillipe) melihat sebuah poster bergambarkan sebuah bangunan tua sebagai latarnya. Seketika, ia ingat dengan pengalaman masa kecilnya dimana dia bertemu dengan seorang wanita muda misterius di bangunan tua yang mirip dengan itu. Ia lalu berusaha mencari tahu tentang bangunan ini. Namun tak disangka, ada beberapa orang yang tidak ingin Frederic mengetahui lebih jelas siapa wanita muda itu. Selama investigasinya ini, ia sering melihat penampakan dari wanita muda itu. Penampakan ini membawanya ke sebuah kuburan tua . Tanpa sadar, ia telah membangunkan sekelompok vampire muda telanjang yang selalu membantu dia di saat dia dihadang oleh orang - orang misterius itu.
Dengan alur cerita yang sangat sederhana, sulit untuk bisa melihat ini sebagai masterpiece dari film - film sejenis, melihat tingginya kebebasan kreativitas si sutradara dalam film - film seperti ini. Bumbu misteri dan investigasi di sini terasa kurang menggigit. Sepertinya Jean Rollin tidak tertarik untuk membuat suatu cerita yang complicated. Hal ini yang membuat film ini tidak begitu menarik untuk mereka yang memposisikan film ini sebagai film horror.

Tapi memang bisa dibilang, ini bukan film horror, melainkan sebuah kisah cinta klasik dengan nuansa gothic yang kental. Dengan bekal sebuah cerita sederhana, Jean Rollin menambahkan bumbu - bumbu Gothic dan gambar - gambar surrealis yang bisa menghipnotis kita. Dengan musik jazzy yang corny dan atmosfer yang kelam, Paris diubah bagaikan sebuah dunia kelam dimana tokohnya berusaha untuk keluar dari situ. Gambar - gambar yang simbolis dan puitis membuat film ini menjadi semakin menarik dan cantik.
Akting para pemainnya sendiri tidak begitu luar biasa, Jean-Loup Phillipe sebagai tokoh utama mampu menghadirkan sosok pria metropolis yang merasa hilang dan kosong. Sosok wanita muda misterius juga diperankan dengan pas oleh Annie Brilland. Mimik mukanya yang dingin sudah cukup untuk menghadirkan misteri dan nuansa yang gelap untuk film ini. Sayangnya, ia terlihat kaku pada saat berdialog. Vampire - vampire di sini menjadi titik lemah film ini. Mereka seperti tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ada satu adegan dimana saat Rollin memberikan porsi close up bagi mereka, dan mereka seperti bingung dan mati gaya.
Bagi saya yang belum pernah menonton film - film Rollin, film ini memiliki unsur yang sangat menarik terutama dari gaya puitisnya yang menghipnotis. Endingnya yang indah menjadi nilai tambah tersendiri untuk film yang sederhana seperti ini. Bisa jadi inilah kelebihan Rollin, dengan bekal cerita seperti itu, ia bisa memberikan suatu lapisan - lapisan yang menjadikan film ini menarik dan memorable. Di tangannya, Lips of Blood menjadi suatu kisah cinta surrealis yang kelam dan indah.
