BAADASSSSSS! (2003)

16 02 2008

badassfin.jpg

Directed by Mario Van Peebles

93d54b8f6c3aba2998b1beca199b08b5.jpg

Melvin Van Peebles bisa jadi merupakan living legend dalam komunitas black cinema. Filmnya yang berjudul Sweet Sweetback’s Baadassssss Song! merupakan salah satu film legendaris yang mematahkan karakter stereotype tokoh kulit hitam pada perfilman
Hollywood pada waktu itu. Dalam filmnya itu, Melvin juga berperan sebagai koboi yang berjuang melawan arogansi kulit putih. Film ini disebut – sebut sebagai landasan film blaxploitation dan juga batu tolak untuk para sineas dan aktor kulit hitam untuk masuk ke dalam dunia mainstream

Berbekal fakta itu, Mario Van Peebles, membuat sebuah dokudrama tentang bagaimana beratnya perjuangan sang ayah dalam proses produksi film tersebut. Mario sendiri berperan sebagai Melvin, seorangs sutradara yang baru saja meraih sukses dengan film
komedi,Watermelon Man, dan ditawarkan untuk terus membuat film – film sejenis. Namun keresahan Melvin akan pandangan stereotype Hollywood terhadap tokoh kulit hitam membuat Melvin memutuskan keluar dan membuat film sendiri secara independen. Dibantu dengan teman hippienya, Bill dan crew amatir dari perusahaan video porno, Melvin bertekad untuk membuat sejarah dan mengobarkan bendera perang terhadap Hollywood.

Baadassssss! merupakan proyek homage yang didedikasikan penuh kepada ayahnya. Dalam film ini, bisa kita lihat bagaimana proses perenungan sang ayah sebelum membuat karya legendarisnya itu sampai pada proses produksi dimana Melvin harus mengorbankan seluruh harta bendanya agar film itu bisa dicapai. Semuanya diperankan dengan emosional oleh Mario sendiri. Walupun begitu, salut untuk Mario yang bisa membuat film ini terasa obyektif dan tidak terlalu mengagung-agungkan sosok Melvin. Melvin van Peebles, dalam film ini, digambarkan sebagai seseorang dengan ego besar, yang mau mengorbankan apa saja agar filmnya bisa tercapai. Ia adalah sosok diktator, yang tidak segan – segan memecat dan bahkan menghantam siapa saja yang menghambat jalannya produksi. Ia bahkan “tega” untuk memasukkan anaknya sendiri, (Mario) ke dalam satu adegan dimana si anak harus beradegan sex. Hal ini menjadi menarik, karena film ini juga memasukkan bagaimana pergolakan emosi Mario pada waktu itu.

Baadassssss! adalah film yang menarik. Bukan saja karena faktor – faktor eksternal semata, namun juga bagaimana Mario Van Peebles dapat menggambarkan secara detil karakter Melvin ke dalam film ini. Melvin digambarkan sebagai sosok yang menemukan impian hidupnya dan tidak ragu – ragu untuk mewujudkannya. Ia digambarkan sebagai sosok egois yang mengharapkan semua orang memiliki passion yang sama seperti dia, dan yang paling penting lagi, ia merasa sebagai pahlawan yang sedang bekerja untuk bangsanya sendiri, yaitu kaum kulit hitam. Dengan proses produksi yang memiliki begitu banyak masalah dari berbagai segi, Mario menggambarkan bagaimana frustasinya sang ayah dan keraguannya untuk meneruskan impiannya itu. Dengan akurat dan emosional, Mario memaparkan bagaimana kondisi psikologis sang ayah pada waktu itu.

Sweet Sweetback’s Baadasssss Song mungkin bukan film yang baik dari segi estetika, namun film ini tetap harus mendapat tempat khusus di dalam sejarah perfilman dunia. Dalam Baadassssss!, Mario Van Peebles terlihat ingin memberikan secara detil proses pembuatan sejarah itu,dan ingin membuka mata penontonnya untuk semakin menghargai film tersebut. karena itu film ini juga wajib ditonton oleh mereka yang berniat untuk terjun dalam dunia perfilman independen.Dan satu lagi, harus diakui film ini menjadi lebih bermakna ketika ditutup dengan senyum dan kedipan mata sang ayah yang hangat dan terlihat puas.

e3b1198d86e1aa71991f4b789f97f6f0.jpg





Denno Coil (preview)

11 02 2008

Denno Coil menceritakan tentang Yuko, seorang perempuan yang baru saja tiba di kota Daikoku bersama dengan adiknya dan anjing. Mungkin ini terdengar seperti premise cerita biasa kalau saja setting tempatnya tidak berada di masa depan dimana tamagotchi bukan lagi berupa gadget kecil yang bergambar hitam putih melainkan hewan dengan ukuran seperti asli dan hanya bisa dilihat dengan kacamata yang berfungsi juga sebagai komputer. Dengan setting seperti ini, maka sudah sepantasnya saya sedikit kebingungan di awal – awal episode ini. Namun setelah 1/2 episode, alur ceritanya mulai agak sedikit jelas dan semakin menarik.

Tema seperti ini mungkin bukan hal yang baru di dalam anime. Sekilas, anime ini mengingatkan saya dengan Serial Experiment Lain namun tanpa ada kritik sosial dan dengan tone yang lebih ceria. Walaupun mungkin tidak akan sekompleks SeLain, namun saya berharap anime ini bisa membawakan tema yang lebih “dalam” daripada anime – anime sejenis. Secara garis besar, episode 1 ini sudah cukup bagi saya untuk menyaksikan kembali episode – episode yang lain.





Levres de Sang (1975)

9 02 2008

directed by Jean Rollin

Jean Rollin bisa jadi salah satu sutradara film B-Horror yang paling menarik. Hampir semua filmnya memiliki nuansa vampirism dan surreal yang kental. Di tengah film – filmnya yang “naik-turun”, Lips of Blood sering disebut – sebut sebagai salah satu film terbaik milik Rollin. Berbekal predikat itu, maka saya memilih film ini sebagai film Rollin pertama saya.Sebenarnya, ketertarikan saya terhadap Jean Rollin, dimulai saat saya terkagum – kagum dengan film Venus in Furs karya Jess Franco. Di mata saya, visual dan cara penyampaian Jess Franco sangat menarik dan kreatif sekali. Karena itu saya berusaha mencari film – film serupa, sampai saya membaca kalau Jean Rollin termasuk salah satu sutradara papan atas di genre ini.

Dalam suatu pesta, Frederic (Jean-Loup Phillipe) melihat sebuah poster bergambarkan sebuah bangunan tua sebagai latarnya. Seketika, ia ingat dengan pengalaman masa kecilnya dimana dia bertemu dengan seorang wanita muda misterius di bangunan tua yang mirip dengan itu. Ia lalu berusaha mencari tahu tentang bangunan ini. Namun tak disangka, ada beberapa orang yang tidak ingin Frederic mengetahui lebih jelas siapa wanita muda itu. Selama investigasinya ini, ia sering melihat penampakan dari wanita muda itu. Penampakan ini membawanya ke sebuah kuburan tua . Tanpa sadar, ia telah membangunkan sekelompok vampire muda telanjang yang selalu membantu dia di saat dia dihadang oleh orang – orang misterius itu.

Dengan alur cerita yang sangat sederhana, sulit untuk bisa melihat ini sebagai masterpiece dari film – film sejenis, melihat tingginya kebebasan kreativitas si sutradara dalam film – film seperti ini. Bumbu misteri dan investigasi di sini terasa kurang menggigit. Sepertinya Jean Rollin tidak tertarik untuk membuat suatu cerita yang complicated. Hal ini yang membuat film ini tidak begitu menarik untuk mereka yang memposisikan film ini sebagai film horror.

screenshot LoB02

Tapi memang bisa dibilang, ini bukan film horror, melainkan sebuah kisah cinta klasik dengan nuansa gothic yang kental. Dengan bekal sebuah cerita sederhana, Jean Rollin menambahkan bumbu – bumbu Gothic dan gambar – gambar surrealis yang bisa menghipnotis kita. Dengan musik jazzy yang corny dan atmosfer yang kelam, Paris diubah bagaikan sebuah dunia kelam dimana tokohnya berusaha untuk keluar dari situ. Gambar – gambar yang simbolis dan puitis membuat film ini menjadi semakin menarik dan cantik.

Akting para pemainnya sendiri tidak begitu luar biasa, Jean-Loup Phillipe sebagai tokoh utama mampu menghadirkan sosok pria metropolis yang merasa hilang dan kosong. Sosok wanita muda misterius juga diperankan dengan pas oleh Annie Brilland. Mimik mukanya yang dingin sudah cukup untuk menghadirkan misteri dan nuansa yang gelap untuk film ini. Sayangnya, ia terlihat kaku pada saat berdialog. Vampire – vampire di sini menjadi titik lemah film ini. Mereka seperti tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ada satu adegan dimana saat Rollin memberikan porsi close up bagi mereka, dan mereka seperti bingung dan mati gaya.

Bagi saya yang belum pernah menonton film – film Rollin, film ini memiliki unsur yang sangat menarik terutama dari gaya puitisnya yang menghipnotis. Endingnya yang indah menjadi nilai tambah tersendiri untuk film yang sederhana seperti ini. Bisa jadi inilah kelebihan Rollin, dengan bekal cerita seperti itu, ia bisa memberikan suatu lapisan – lapisan yang menjadikan film ini menarik dan memorable. Di tangannya, Lips of Blood menjadi suatu kisah cinta surrealis yang kelam dan indah.

screenshot LoB 03





Hello world!

9 02 2008

Ini sebenernya adalah entri blog baru khusus untuk ngebahas film – film yang jadi kesukaan saya. Jadi blog satunya lagi, shavanta.wordpress.com bakal khusus untuk desain dan lain – lain. Dan ini akan jadi situs review film tersendiri biar lebih rapi… sip deh!